Memilih Manajer Investasi Pengelola Reksa Dana

Investasi di reksa dana menawarkan beberapa keuntungan, di antaranya
memungkinkan investasi dengan modal kecil, memberikan diversifikasi portofolio
sehingga memberikan kemungkinan untuk mendapatkan tingkat pengembalian
yang c

ukup dengan tingkat resiko yang terukur dan dikelola oleh manager
investasi profesional. Dan masih ada lagi beberapa keuntungan lainnya.
Dalam memilih jenis reksa dana, calon investor wajib memperhatikan tingkat
toleransinya terhadap resiko. Hal ini sangat penting, karena dalam berinvestasi
tentunya investor menginginkan ketenangan. Selain itu tujuan serta jangka
waktu investasi juga berperan dalam menentukan jenis reksa dana yang dipilih.
Di samping semua hal yang telah disebutkan di atas, pilihan reksa dana juga
dipengaruhi oleh manajer investasi yang mengelola reksa dana – hal ini penting
karena investor tentunya ingin investasinya benar-benar berkembang sesuai
dengan keinginannya. Berbeda manajer investasi, berbeda pula kinerja reksa
dananya, meskipun jenis reksa dananya sama. Sebagai contoh, bila investor
ditawarkan dua reksa dana dengan jenis sama, misalnya reksa dana saham,
maka tingkat pengembalian keduanya belum tentu akan sama karena semua
investasi yang dilakukan sangat bergantung oleh manajer investasinya.
Keputusan investasi sering merupakan hal yang tidak mudah karena menyangkut
masa depan dan gaya hidup. Jika salah, terkadang akibat yang harus ditanggung
tidaklah ringan, seperti hilangnya tabungan, menurunnya gaya hidup, bahkan
sampai gangguan kejiwaan. Oleh karena itu, sebelum berinvestasi di reksa dana
ada baiknya calon investor menelaah dengan cermat manajer investasi (MI) yang
mengelola reksa dana tersebut. Dalam tulisan kali ini penulis mencoba
memberikan gambaran mengenai apa saja hal-hal yang perlu diperhatikan oleh
calon investor dalam memilih manajer investasi pengelola reksa dana.
Berikut adalah faktor-faktor yang perlu dipertimbangkan calon investor dalam
memilih MI:
1. Perizinan MI
Untuk memastikan apakah MI sudah mengantongi izin dari Badan Pengawas
Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK), tidak ada salahnya calon
investor mengecek situs Bapepam-LK di www.bapepam.go.id. Dalam situs ini
dapat digali berbagai macam informasi, mulai dari peraturan pasar modal sampai
perusahaan yang dibekukan izin usahanya.
2. Pengalaman MI
Tidak ada salahnya calon investor memeriksa kualitas manajer investasi. Cek
latar belakang kepemilikan dan manajemen perusahaan yang bersangkutan,
serta jam terbang dan tingkat pengalaman dari para pengelola dana (fund
manager) di perusahaan tersebut. Ketahui berapa lama perusahaan MI sudah
berdiri dan apa saja kegiatan bisnisnya. Biasanya informasi ini tercantum dalam
satu bab tersendiri dalam prospektus reksa dana, termasuk informasi tentang
kapan perusahaan didirikan, perubahan-perubahan terhadap anggaran dasarnya,
susunan direksi dan komisaris, pengalaman MI, serta pihak yang terafiliasi
dengan MI (kalau ada).
Selain itu, perhatikan pula track record perusahaan: berapa lama perusahaan
tersebut telah menjalankan bisnis reksa dana di Indonesia atau di luar Indonesia?
Semakin lama semakin baik, tentunya juga dengan kinerja yang baik dalam
kurun waktu yang lama karena hal ini mengindikasikan bahwa perusahaan
tersebut mempunyai manajemen dan sistem yang baik. Staf suatu perusahaan
mungkin berganti-ganti, termasuk staf bagian investasi. Jadi, jika dana Anda
diinvestasikan dalam suatu reksa dana dalam kurun waktu yang agak panjang,
kemungkinan dikelola oleh orang yang berbeda-beda. Namun jika manajemen
dan sistemnya baik, perusahaan tersebut tetap bisa mempertahankan kinerjanya
secara konsisten.
3. Kekuatan finansial dan dukungan grup perusahaan
Hal ini perlu untuk meyakinkan calon investor bahwa MI yang akan dipilihnya
akan berumur panjang. Semakin besar dukungan dan komitmen grupnya
semakin baik prospek kelangsungan bisnis sang MI.
Jika MI memiliki kondisi finansial yang kuat dan sehat, Anda akan yakin terhadap
kelangsungan reksa dana kelolaannya, apalagi jika Anda memunyai tujuan
investasi jangka panjang. Karena anda tidak mau ada masalah di tengah
perjalanan investasi, maka anda perlu melihat dari sisi besarnya perusahaan:
apakah perusahaan tersebut merupakan bagian dari suatu grup perusahaan yang
kuat dan sehat? Jangan sampai, jika ada masalah di grup perusahaan tersebut,
bisnis reksa dananya juga ikut terganggu.
4. Kinerja historis MI
Walaupun kinerja masa lampau tidak bisa dijadikan patokan untuk meramalkan
kinerja masa mendatang, calon investor bisa melihat kemampuan MI mengelola
reksa dana dari kinerja historis reksa dana yang dikelolanya. Perhatikan
bagaimana hasil kinerja jangka panjang, tingkat konsistensi, filosofi investasi
yang diadopsi, serta jumlah aset yang dihimpun dan dikelola.
Selain mampu membentuk portofolio yang terdiversifikasi dengan baik dan
memberikan imbal hasil yang mengalahkan imbal hasil tolok ukurnya, manajer
investasi yang handal juga mampu menjaga konsistensi kinerjanya. Dalam
melihat kinerja historis, calon investor tidak boleh hanya terpaku pada imbal
hasil; ia juga perlu mempertimbangkan risiko. Untuk mengukur risiko ini calon
investor bisa memperhatikan fluktuasi keuntungan reksa dana: jika fluktuasinya
tinggi, artinya risikonya juga tinggi. Sebaliknya jika fluktuasinya kecil, atau
kinerjanya cenderung stabil, berarti risikonya rendah.
5. Gaya investasi MI
Ketika memilih MI, tidak sedikit calon investor yang cenderung mencari MI yang
bisa memberikan imbal hasil tertinggi. Padahal, investor juga perlu mengenal
gaya investasi MI tersebut karena siapa tahu, imbal hasil yang tinggi itu diperoleh
dengan gaya investasi yang terlalu berani alias berisiko tinggi. Dengan
mengetahui gaya investasi MI, calon investor kemudian dapat menimbang
apakah gaya tersebut sesuai dengan tujuan investasi serta profil resiko
pribadinya.
Gaya investasi MI dapat dipelajari dari isi portofolio yang dilaporkan dalam
laporan keuangan reksa dana yang tercantum dalam prospektus. Yang patut
diperhatikan adalah jenis obligasi atau saham yang ada di dalam portofolionya.
Obligasi korporasi, misalnya, memang memiliki potensi imbal hasil yang lebih
tinggi dari obligasi pemerintah (SUN) karena bunga kupon yang ditawarkan
memang lebih tinggi. Tapi di lain sisi obligasi korporasi biasanya lebih tidak likuid
dibandingkan dengan SUN, sehingga jika MI banyak memiliki obligasi korporasi
dalam portofolio reksa dananya maka jika terjadi penjualan kembali (redemption)
besar-besaran, tidak tertutup kemungkinan MI dapat mengalami kesulitan
menjual obligasi korporasi tersebut sehingga berujung dengan kegagalan MI
melunasi redemption. Lebih lanjut, calon investor juga bisa melihat apakah lebih
banyak obligasi atau saham perusahaan-perusahaan kecil namun tingkat
pertumbuhannya cukup besar, atau lebih banyak saham atau obligasi perusahaan
mapan dengan pertumbuhan lebih pelan. Calon investor juga bisa melihat apakah
portofolionya terdiri dari saham atau obligasi perusahaan di sektor tertentu atau
merata di semua sektor.
6. Dana kelolaan MI
Ibarat mesin produksi yang bisa menghasilkan barang lebih murah bila jumlah
yang diproduksi bertambah banyak, dalam bisnis jasa pengelolaan aset juga
berlaku norma economies of scale: makin besar aset yang dikelola manajer
investasi, makin efisien pengelolaan dananya dan potensi imbal hasilnya juga
makin baik. Mengapa demikian? Karena makin besar aset, makin kuat posisi
tawar MI untuk mendapatkan harga lebih baik saat bertransaksi, menekan biaya
transaksi (contohnya komisi pialang biasanya makin kecil seiring dengan makin
besarnya nilai transaksi) khususnya untuk instrumen pasar uang dan pendapatan
tetap.
7. Nasabah yang sudah berinvestasi di MI
Bisnis MI adalah bisnis kepercayaan, sehingga jumlah nasabah bisa menjadi
indikator tingkat kepercayaan terhadap sang MI. Selain mengelola reksa dana,
banyak MI yang juga mengelola portofolio nasabah secara terpisah (discretionary
fund). Nasabah discretionary fund umumnya merupakan nasabah besar seperti
dana pensiun atau perusahaan asuransi – institusi apa saja yang telah
memberikan mandat kepada MI untuk mengelola dananya juga bisa
mengindikasikan reputasi MI.

8. Struktur biaya
Dalam prospektus reksa dana ada bab khusus yang memuat uraian tentang
alokasi biaya dan imbalan jasa reksa dana. Alokasi biaya ini biasanya terbagi
dalam 3 kelompok:
a. Biaya yang menjadi beban reksa dana
b. Biaya yang menjadi beban MI
c. Biaya yang menjadi beban pemegang unit penyertaan
Dalam hal ini yang relevan untuk dipertimbangkan adalah biaya yang menjadi
beban reksa dana karena komponen biaya ini menjadi pengurang dalam
perhitungan Nilai Aktiva Bersih (NAB) reksa dana, sehingga mempengaruhi
potensi imbal hasil reksa dana.

Untuk biaya yang menjadi beban pemegang unit penyertaan, perhatikan berapa
besar biaya pembelian (subscription) dan biaya penjualan kembali (redemption).
Selama di prospektus hanya tercantum maksimumnya, maka investor masih bisa
menegosiasikan kedua biaya ini – biasanya untuk nasabah institusi biayanya bisa
ditekan mengingat besarnya jumlah dana yang diinvestasikan. Untuk biaya
penjualan kembali beberapa MI malah membebaskan investor dari biaya ini jika
investor sudah berinvestasi lebih dari kurun waktu tertentu.

9. Kualitas layanan MI
Bagi MI yang melayani investor ritel secara langsung, calon investor juga bisa
mencari informasi mengenai kualitas layanan sang MI, misalnya bagaimana MI
merespon kebutuhan investor, seberapa cepat dan akurat layanan MI, dan lain
sebagainya. Bagi nasabah institusi, kebanyakan MI memiliki divisi institutional
sales yang melayani nasabah institusi secara langsung. Dalam hal ini kualitas
layanan bisa dilihat dari (1) kualitas informasi dan (2) kualitas layanan nasabah
(client service).
Dalam hal kualitas informasi, periksa juga kualitas informasi yang diberikan oleh
manajer investasi, dalam hal ketepatan, kemutakhiran, serta kelengkapan
informasi.
Sedangkan dalam hal layanan nasabah, perhatikan apakah mereka memberi
kemudahan berinteraksi, berdiskusi, serta langkah-langkah apa saja yang diambil
dalam menangani masalah.
7P Dalam Proses Seleksi Manajer Investasi
Secara ringkas, ada 7 faktor (7 P) yang perlu diperhatikan calon investor dalam
proses seleksi manajer investasi:

People
Ini adalah faktor sumber daya manusia. Dalam hal ini calon investor bisa
mengevaluasi struktur internal organisasi, keadaan birokrasi dan turn over rate
karyawan MI.

Process
Calon nasabah institusi bisa mengajukan kepada pertanyaan kepada manajer
investasi untuk menggambarkan proses investasi harian dan mingguan. Apakah
manajer mempunyai wewenang mengarahkan proses? Ketidakjelasan proses
dalam mencari peluang investasi dapat memperkecil kemungkinan manajer
investasi memberikan imbal hasil yang baik secara konsisten.
Philosophy
Apakah manajer investasi memiliki filosofi investasi yang jelas, masuk akal dan
konsisten dengan produk yang dipasarkannya?

Product
Apakah produk-produk yang ditawarkan sesuai dengan yang calon investor
butuhkan dan benar-benar sesuai dengan yang dijalankan? Bagi nasabah institusi,
penting untuk menemukan MI yang melakukan consultative selling, yaitu
berusaha memberikan solusi yang memenuhi kebutuhan investasi sang nasabah,
bukan melulu menjual produk.

Progress
Bagaimana perkembangan perusahaan MI sebagai suatu bisnis? Dalam hal ini
perhatikan perkembangan bisnis dari segi jumlah dana kelolaan, revenue serta
profitabilitas.

Price
Total biaya yang dikenakan kepada investor seperti management fee, redemption
fee, dan lain-lain harus dapat dijustifikasi dalam bentuk imbal hasil yang
diberikan. Misalnya jika total biaya yang dibayarkan ke MI sebanyak 2% maka
return yang diberikan sebaiknya lebih dari 2%.

Kesimpulan
Melakukan pemilihan sebuah reksa dana adalah suatu keharusan dalam
berinvestasi pada instrumen ini. Aspek yang terpenting adalah melakukan
pemilihan manajer investasi yang terpercaya untuk mengolah reksa dana. Meski
saat ini terdapat banyak perusahaan pengelola reksa dana, jangan terlalu cepat
memutuskan perusahaan atau manajer investasi mana yang dipilih. Telitilah
terlebih dahulu karena keberhasilan investasi dalam reksa dana sangat
dipengaruhi oleh manajer investasinya.

Disclaimer
Dokumen ini dibuat hanya dengan maksud memberikan informasi dan bukan
merupakan (1) suatu bentuk penawaran untuk membeli atau menjual efek atau
instrumen keuangan yang disebut dalam dokumen ini atau (2) suatu nasihat
investasi. Setiap keputusan untuk berinvestasi pada efek yang dijelaskan dalam
dokumen ini harus diambil setelah membaca prospektus. Lebih lanjut, calon
investor harus meneliti, sejauh diperlukan dan mencari nasihat hukum, akuntansi
dan perpajakan sebelum membuat keputusan secara independen mengenai
kesesuaian berinvestasi pada sekuritas tertentu dan segala konsekuensinya.
Pendapat yang termuat dalam dokumen ini dapat berubah sewaktu-waktu tanpa
pemberitahuan.

ahart

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *